Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI Bahas Penguatan Profesi Ahli Gizi dan Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Img 20260704 wa0006

SURABAYA,
Lintasskandal.com – Hari kedua Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI di Surabaya diwarnai pembahasan strategis mengenai penguatan profesi ahli gizi, pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) gizi nasional, serta dukungan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Umum DPP PERSAGI, Doddy Izwardi, mengatakan rangkaian kegiatan hari kedua difokuskan pada Simposium SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan Koligium Gizi, serta seminar yang diselenggarakan bersama Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), dan Asosiasi Nutrisionis Indonesia (ASNI).
Menurutnya, berbagai materi yang disampaikan merupakan pembaruan ilmu pengetahuan dan kebijakan terkini di bidang gizi.

Img 20260704 wa0008

“Ada dua hal yang menjadi fokus utama hari ini, yaitu pembahasan SPPG terkait pemenuhan kebutuhan gizi nasional dan Koligium Gizi yang membahas solusi terhadap berbagai tantangan profesi ahli gizi di masa depan,” ujar Doddy.
Ia menjelaskan, perubahan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan membawa dampak besar bagi profesi nutrisionis. Karena itu, PERSAGI tengah memperjuangkan pengesahan standar profesi nutrisionis sebagai dasar penguatan karier tenaga gizi.

“Standar profesi ini nantinya akan kami bawa ke Kementerian PAN-RB untuk menjadi dasar penetapan jabatan fungsional yang sesuai, baik di puskesmas maupun rumah sakit,” jelasnya.

Img 20260704 wa0007

Doddy menambahkan, tantangan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kini semakin besar. Oleh sebab itu, PERSAGI juga menjalin kerja sama dengan Kementerian UMKM melalui Deputi Kewirausahaan guna membuka peluang bagi lulusan ahli gizi untuk berwirausaha.

“Melalui Temu Ilmiah Nasional II ini, kami ingin menyiapkan berbagai alternatif pengembangan karier bagi para ahli gizi, tidak hanya di sektor pemerintahan tetapi juga di bidang kewirausahaan,” katanya.

Baca juga :  Polres Pelabuhan Tanjungperak Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba pada Pelajar

Img 20260704 wa0009

Ia juga mengungkapkan, berdasarkan data Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan, jumlah lulusan nutrisionis dan dietisien di Indonesia masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut berdampak pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Menurut Doddy, banyak SPPG yang belum memiliki tenaga ahli gizi sesuai standar.

“Ketika Badan Gizi Nasional meminta PERSAGI menyiapkan tenaga pengawas gizi, kami masih mengalami kesulitan karena jumlah tenaga yang tersedia belum mencukupi. Padahal setiap SPPG idealnya memiliki minimal dua orang ahli gizi,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas DPP PERSAGI menegaskan dukungannya terhadap penyelenggaraan Temu Ilmiah Nasional II yang melibatkan berbagai organisasi profesi, seperti AsDI, ISNA, dan ASNI.

Ia berharap sinergi dengan media massa tidak hanya terjalin selama kegiatan berlangsung, tetapi terus berlanjut dalam mendukung berbagai program pemerintah, khususnya Program Makan Bergizi Gratis.

“Kami berharap media dapat terus memberikan masukan yang konstruktif agar pelaksanaan program MBG semakin optimal dan PERSAGI dapat memberikan kontribusi terbaik,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Nutrisionis Indonesia (ASNI), Taufik, mengatakan organisasinya memiliki tugas meningkatkan kapasitas dan kompetensi nutrisionis, khususnya yang terlibat dalam pelaksanaan Program MBG.

Menurutnya, peningkatan kompetensi dibutuhkan agar pelaksanaan program memiliki standar yang sama di seluruh daerah.

“Banyak peserta seminar yang mempertanyakan bagaimana pengembangan kompetensi mereka agar mampu menjawab berbagai tantangan di lapangan. Karena itu peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), Mirza Hapsari, menyampaikan dukungan penuh terhadap PERSAGI dan pemerintah dalam penguatan layanan gizi olahraga bagi atlet Indonesia.

Ia menilai masih banyak sekolah olahraga yang belum mendapatkan pendampingan gizi secara optimal.

“Ke depan kami bersama PERSAGI akan terus mengawal penguatan program gizi olahraga untuk menciptakan SDM unggul dan mendukung prestasi atlet menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Mirza.

Baca juga :  Penandatanganan Fakta Integritas Pengamanan Proyek Strategis Nasional Bersama Kajati Jatim dan Kepala BBPJN Jawa Timur - Bali

Ia juga menegaskan kesiapan PERSAGI untuk bersinergi dengan pemerintah apabila program Sekolah Rakyat nantinya membutuhkan pendampingan gizi, khususnya bagi pembinaan atlet usia muda.

Selain sesi diskusi organisasi profesi, Temu Ilmiah Nasional II juga menghadirkan Simposium Nasional ISNA yang diikuti ratusan ahli gizi dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Pada kesempatan tersebut, Fitri Hudayani, SST, SGz, MKM memaparkan materi mengenai strategi AsDI dalam menerapkan kebijakan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) serta kolaborasi global untuk meningkatkan mutu pelayanan gizi. Sementara itu, Prof. Dr. Susetyowati, DCN menyampaikan materi tentang transformasi layanan gizi nasional berbasis bukti ilmiah dan penguatan profesionalisme dietisien sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. (red)

Leave a Reply