Gubernur Khofifah Hadiri Harlah ke-80 Muslimat NU, Serukan Penguatan Tradisi dan Perdamaian Dunia
SURABAYA, lintasskandal.com — Khofifah Indar Parawansa menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama yang digelar di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (17/5/2026).
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian dan Meneduhkan Peradaban”, acara tersebut menjadi momentum penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus seruan perdamaian dunia.
Dalam sambutannya, Khofifah menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Syekh Assayid Afeefuddin Al-Jailani bersama keluarganya di tengah perayaan Harlah Muslimat NU.
Menurutnya, kehadiran ulama keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani itu diharapkan membawa keberkahan bagi masyarakat Jawa Timur dan warga Muslimat NU.
“Semoga karomah beliau membawa keberkahan bagi maulid kita, rezeki kita, dan umur kita,” ujar Khofifah di hadapan ribuan jamaah.
Khofifah juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini menjadi ciri khas Muslimat NU, seperti sholawat, istighasah, dan manaqiban. Ia menilai tradisi tersebut tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga perekat sosial di tengah tantangan zaman.
Menurut Khofifah, kekuatan Muslimat NU saat ini semakin besar dengan hadirnya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU di berbagai negara. Karena itu, ia meminta seluruh kader terus menjaga tradisi sekaligus memperkuat kemandirian organisasi.
Selain itu, Khofifah mengungkapkan pesan yang disampaikan Syekh Afeefuddin Al-Jailani kepadanya, yakni pentingnya membalas doa dan cinta masyarakat dengan doa serta kepedulian kepada sesama.
“Jika banyak orang mencintai dan mendoakan kita, maka kita juga memiliki kewajiban mendoakan orang-orang di sekitar kita,” katanya.
Sementara itu, Syekh Assayid Afeefuddin Al-Jailani berharap usia Muslimat NU tidak berhenti di angka 80 tahun, tetapi terus bertahan hingga ratusan tahun ke depan dengan membawa manfaat bagi umat dan bangsa.
Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU, Arifatul Choiri Fauzi, mengatakan usia 80 tahun menunjukkan kematangan organisasi. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah kemampuan Muslimat NU beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
“Muslimat NU harus mampu memaksimalkan kecanggihan teknologi digital tanpa meninggalkan akar tradisi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, menegaskan bahwa peran perempuan menjadi bagian penting dalam perkembangan Islam di Jawa Timur.
Ia menyebut keberhasilan Muslimat NU hari ini tidak lepas dari perjuangan para perempuan ulama dan pejuang terdahulu.
Pada puncak acara, Muslimat NU juga membacakan surat pernyataan dan imbauan perdamaian dunia yang ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa agar menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian global. Pernyataan tersebut dibacakan dalam Bahasa Indonesia oleh Maryam Baharudin dan dalam Bahasa Inggris oleh Zumrotul Mukaffah. (red)

