Kemarau Panjang Keringkan Sumur 1.624 KK di Ngawi, Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih
NGAWI, lintasskandal.com – Kemarau panjang membuat ribuan warga di Kabupaten Ngawi kesulitan mendapatkan air bersih.
Sebanyak 1.624 kepala keluarga (KK) atau 4.723 jiwa yang tersebar di 22 desa pada tujuh kecamatan terdampak kekeringan. Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan air bersih beserta sarana penampungan air di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Rabu (21/10/2026).
Di Dusun Gagan, kekeringan berdampak pada 196 KK atau 350 jiwa. Sumur-sumur warga yang mulai mengering membuat masyarakat bergantung pada distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten memperkuat penanganan darurat sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang.
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus kita penuhi. Kami ingin memastikan masyarakat terdampak mendapatkan layanan distribusi air bersih. Pada saat yang sama, langkah mitigasi harus disiapkan secara lebih komprehensif karena kemarau kali ini berlangsung lebih panjang,” ujar Khofifah.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, bantuan yang disiapkan di lokasi meliputi dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, dua tandon air, dua tandon lipat, serta 100 jeriken. Bantuan tersebut diharapkan membantu masyarakat memperoleh pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga selama sumber air setempat belum kembali normal.
Secara keseluruhan, dukungan Pemprov Jatim untuk penanganan kekeringan di Kabupaten Ngawi mencakup bantuan distribusi air bersih senilai Rp307.115.065, sebanyak 25 tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter, 420 jeriken berkapasitas 15 liter, dan 200 terpal.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, dampak kekeringan di Ngawi tersebar di tujuh kecamatan, yakni Bringin, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Ngawi, dan Pitu.
Khofifah menegaskan, distribusi bantuan harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah melalui pemutakhiran data dan koordinasi antara BPBD provinsi, BPBD kabupaten, kecamatan, serta pemerintah desa.
Selain memenuhi kebutuhan darurat, Pemprov Jatim mulai mendorong upaya penyediaan sumber air alternatif. Khofifah meminta Dinas Sumber Daya Air meninjau potensi sumber air yang menurut informasi pemerintah kabupaten berada sekitar dua kilometer dari kawasan terdampak.
“Kalau memang ada sumber air yang relatif dekat, perlu kita cek kondisi dan potensi pemanfaatannya. Harapannya, kita tidak hanya mengandalkan distribusi bantuan, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar sumber air,” jelasnya.
Secara regional, hingga 15 Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Timur membutuhkan distribusi air bersih untuk menangani kekeringan. Sebanyak 24 daerah telah menerbitkan surat keputusan (SK) kedaruratan, sementara distribusi air bersih telah dilaksanakan di 25 kabupaten.
Khofifah menyebutkan, tantangan kekeringan diperkirakan masih berlanjut karena peningkatan curah hujan diprediksi baru terjadi pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027 berdasarkan informasi BMKG yang disampaikannya. Karena itu, Pemprov Jatim juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang mendukung.
Selain langkah teknis, masyarakat juga diajak memperkuat ikhtiar melalui Salat Istisqa’. Khofifah menyampaikan bahwa surat edaran telah diterbitkan untuk mendorong pelaksanaan salat tersebut di berbagai lingkungan, termasuk pesantren, organisasi kemasyarakatan Islam, Dewan Masjid Indonesia, dan Majelis Ulama Indonesia.
Di tengah penanganan kekeringan, Khofifah turut mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan dalam keterangannya, jumlah titik panas atau hotspot di Jawa Timur yang sebelumnya lebih dari 600 titik telah turun menjadi 92 titik pada malam sebelum kunjungan.
Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu, termasuk melalui pembasahan kawasan rawan apabila kondisi memungkinkan, dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas dan relawan.
Khofifah juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya lima relawan saat menangani karhutla di kawasan Bromo. Satu relawan lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya saat keterangan tersebut disampaikan.
Sementara itu, bagi warga Dusun Gagan, bantuan air bersih menjadi penopang utama setelah kekeringan berlangsung sejak Juni lalu. Purwati (39), warga setempat, mengatakan sumur-sumur di wilayahnya telah mengering sehingga masyarakat mengandalkan pasokan air bantuan yang datang secara berkala.
“Semua orang mencari air, sumur pun sudah tidak ada airnya. Satu sampai dua hari biasanya selalu datang bantuan air. Alhamdulillah, matur nuwun sanget atas bantuanipun dan atas kehadiran Ibu Khofifah,” ujar Purwati.
Hal serupa disampaikan Sarmi (50). Ia mengaku bersyukur atas bantuan air bersih yang membantu warga memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah sulitnya memperoleh air dari sumur.
“Semua di sini sudah habis airnya, di sumur juga sudah tidak ada air. Alhamdulillah, senang banget atas bantuan dari Ibu Khofifah. Terima kasih nggih, Bu Khofifah,” tuturnya.
Khofifah berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Pemprov Jatim akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan pihak terkait, baik melalui distribusi air maupun penjajakan sumber air alternatif, agar penanganan kekeringan tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan bagi warga terdampak. (red)

